SEJARAH MUNCULNYA TARI REJANG SUTRI

Sejarah munculnya tari Rejang Sutri di desa Batuan, Sukawati, sangatlah sulit, karena tidak adanya catatan – catatan, literatur, buku- buku yang menyebutkan tentang tari Rejang Sutri ini. Hanya keterangan secara lisan sebagai cerita rakyat yang secara turun temurun telah dipercayai oleh masyarakat Batuan. Keterangan itu adalah berawal dari kekalahan I Renggan yang sekarang bergelar Ratu Gede Mecaling (menguasai ilmu hitam) atas I Dewa Babi mengakibatkan terciptnya tarian Rejang Sutri tersebut. Kejadian tersebut kira –kira terjadi pada abad ke 17 (1658 Masehi), saat kerajaan Sukawati dipegang oleh Ida Sri Aji Maha Sirikan yang bergelar I Dewa Agung Anom dan nama lainnya Sri Wijaya Tanu.

Rejang Sutri, dilaksanakan di Wantilan Pura Puseh Desa Batuan

Kejadian tersebut berawal dari resahnya warga batuan karena ilmu hitam I Renggan, karena sifatnya sering nelarang aji ugig, misal ada salah satu masyarakat yang mempunyai suatu upacara yang menggunakan banten guling babi, dengan kesaktiannya I Renggan menghidupkan guling yang telah menjadi banten upacara. Suatu hari terjadi hal menarik dan aneh akibat ulah dari si Renggan. Ada kumpulan masyarakat setempat sedang membuat guling yang digunakan untuk sarana upakara, I Renggan meminta untuk ikut membantu dalam membuat guling tersebut namun tidak diizinkan karena masyarakat tahu dia nelarang aji ugig dan I Renggan disuruh mengguling mentimun yang ada disampingnya. Ia lalu mengguling timun di samping tempat mengguling babi, sungguh hal aneh disaat sudah matang tiba – tiba rasa dari guling babai berubah manjadi rasa mentimun dan guling mentimun yang dibuat oleh I Renggan berubah rasa menjadi rasa guling babi. Berdasarkan hal tersebut masyarakat Batuan sampai sekarang mempercayai bahwa setiap menghaturkan guling pasti disampingnya disertai dengan buah mentimun.

Setiap saat I Renggan seklalu sempat nelarang aji ugig, maka masyarakat melapor kepada Dewa Babi, dan Dewa Babi memutuskan untuk mengjak I Renggan bertarung menguling. Pada saat pertandingan, guling I Renggan di bagian kakinya diikat dengan benang tri datu dan Dewa babi dengan tali kupas. Barang siapa yang talinya putus akibat terbakar terlebih dahulu ia harus pergi dari Desa Batuan. Diceritakan pertandingan telah dimulai, selang beberapa lama hal mengejutkan terjadi, tali benang tri datu terputus itu pertanda bahwa I Renggan kalah dalam pertandingan dan harus pergi dari Desa Batuan. Kekalahan itu mengakibatkan I Renggan terusir dari Batuan dan akhirnya tinggal diJungut Batu Nusa Penida Kabupaten Klungkung dan di Nusa Penida bernama Ratu Gede Mecaling. Ratu Gede Mecaling berjanji akan mencari tumbal di Desa Batuan, serta siapa saja yang berani datang ke Nusa Penida akan mendapatkan celaka, karena itu warga merasa resah. Jro mangku menyiasati agar pada saat sasih kalima sampai sasih kesanga agar masyarakat tidur di bawah tempat tidur atau di beten longn agar dilihat seperti babi.Lama- kelamaan masyarakat merasa jenuh dengan bayang- bayang Ratu Gede Mecaling, sesunan ring pura Desa memberikan pawisik kepada jro mangku agar nyuguhkan sebuah tarian Rejang Sutri dan Gocekan. Sebab dengan itu dapat meluluhkan hawa nafsu, dendam yang dirasakan oleh Ratu Gede Mecaling.

Namun pada masa sekarang ini beberapa orang masyarakat Batuan sudah sering melakukan persembahyangan ke Pura Dalem Peed Nusa Penida tempat berstananya Ratu Gede Mecaling, tetapi tidak terjadi apa- apa, dan mudah- mudahan beliau melupakan kejadian masa lalu dan memberikan keselamatan kepada kehidupan kita.Bahkan suatu kepercayaan bahwa pada mulai sasih kelima ( sekitar bulan Nopember ) sampai sasih kesanga ( bulan Maret ) tahun berikutnya dikenal masa bebrjangkitnya bermacam – macam penyakiy ( wabah ) dan dirasakan sebagai saat – saat sangat genting, kepercayaan masyarakat Desa Batuan saat inilah I Gede Mecaling sedang berkelana di Bali untuk mencari labaan ( tumbal ) dan menyebar gering /pemyakit. Maka, khususnya di Batuan menggelar pertunjukan Rejang Sutri untuk meminimalisir pengaruh negatif saat bulan – bulan tersebut.

Dari sejarah singkat mengenai asal mula tari Rejang Sutri di daerah Batuan yang telah dipaparkan, ini menjadi tombak munculnya tari Rejang Sutri di daerah Gianyar, seperti misalnya di daerah Batuan, Pura Samuantiga di Bedulu, di Desa Pering Blahbatuh, di Pura Agung Desa Lebih Gianyar, dan lain – lain pada saat piodalan – piodalan (ngusabha) di pura – pura tertentu. Tarian ini dilakukan sebagai peminimalisir pengaruh negatif dan orang yang bisa menjadi permas atau penari sutra adalah orang-orang yang menjadi pewaris (keturunan) yang pada mulanya adalah orang-orang yang pernah terkena musibah (sakit) dan orang-orang tersebut.

Sumber : khayanti29hindu.blogspot