Gambuh

Gambuh Batuan

Gambuh adalah tarian dramatari yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.

Diperkirakan Gambuh muncul sekitar Abad ke-15″ dengan lakon bersumber pada cerita “Panji”. Gambuh berbentuk teater total karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.

Gambuh dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.

Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu, tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog umumnya menggunakan bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya, atau kasar.

Menurut seniman alam Imade Djimat selaku seniman tari di desa batuan, berdirinya gambuh di desa batuan pada tahun 993 menurut buku yang berjudul Usana jawa dan sejarah bali  yang waktu itu beliau dapat membaca di rumah bapak I Nyoman Rinda (alm) di Desa Blahbatuh. Sejarahnya pada zaman dulu ada kisah kebo taruna atau bisa di sebut dengan kebo iwo yang menyabit pepohona di Batuan atau dulunya di sebut Desa Bebaturan sampaik bersih dari Pura Yhang Tibah yang ada di Desa Cangi sampai di Desa Bebaturan.sampai sekarang pura yang ada di Desa Cangi dan di Desa Batuan itu menjadi Sejarah Purba Kala yang terlihat di dalam buku tersebut. Dan tentang perbedaannya dengan Gambuh Desa Pedungan  adalah dari segi tarian sudah berbeda antara gerak, pakem-pakem dan  dari segi ucap-ucap (dialog) yang ada di Desa Pedungan sangat berbeda dengan yang ada di Desa Batuan.

I Made Jimat

Bapak Iwayan Naka pemain sebagi pemain suling di Desa Batuan, Beliau mempelajari gambelan gambuh pada Tahun 1971 Di Batuan. Menurut beliau sejarah Gambelan Gambuh di Batuan dulunya sudah ada sejak tahun 30an. Nama dari grup atau seke Gambuh itu yaitu Gambuh Tri Wangsa dan Sila Mukti saat masih bersatu pada saat dulu masyarakat yang ada di Desa Batuan belum pecah belah, magzudnya adalah dulu di batuan msyarakatnya ada yang biasa(soroh jaba atau braya) dan berdrajat (soroh dewa, idabagus). Pada saat itu tabuh Pegambuhan di pegang oleh msyarakat yang berdrajat(soroh dewa, dan idabagus) dan dari segi tarian di pegang oleh msyarakat biasa( soroh jaba atau braya) yang kebanyakan para senimannya dari Banjar Pekandelan, yang ada di Desa Batuan seperti I Made Djimat, Kak Kakul(alm), I Nyoman Sadeg(alm) DLL. Pada tahun 1966 masyarakat di batuan pecah menjadi dua soroh. Mereka yang soroh berdrajat tidak mao satu pura dengan yang soroh biasa di pura pusah batuan, sejak itu mereka membangun  pura baru di sebelah perempatan di desa batuan. Sejak itu di Desa Batuan tidak pernah ada pementasan gambuh karena intrumentnya sudah di ambil oleh semeto atau masyarakat yang berdrajat yang pada masa itu Sekaanya yang bernama Gambuh Tri Wangsa, mereka tidak mao meminjamkan apa pun terhadaap msyarakat biasa (soroh jaba atau braya). Pada tahun 1971 ada karya agung di Pura Dalem Sukaluwih yang ada di batuan itu harus mementaskan Gambuh karya, dan pada saat itu msyarakat yang mengayomi pura itu kebanyakan dari Banjar Pekandelan, pada saat itu masyarakat Banjar Pekandelan mengundang Seka Gambuh dari para semeton itu, tetapi terlalu banyak perhitungan dan masalah biaya, Tujuanya tidak mau , makanya mereka terlalu berlika liku. Sejak itulah banjar pekandelan membuat gambuh bernama Gambuh Maya Sari yang masih menjadi toko pada saat itu adalah pak Mangku Budi yang sampai sekarang gambuh maya sari masih berjalan dan di kramatkan. Dan di Batuan Gambuh ini berdiri sejak tahun 1993, itu di latar belakangi oleh seorang seniman dari delmark yang bernaman Nyonya Kristina(alm) beliau meninggal di italia pada tahun 2008 dan beliau yang membuat Yayasan Gambuh Desa Batuan pada saat itu. Sebenarnya yayasan ini mau di serahkan ke Seka Gambuh, tetapi seka gambuh menolak karena kalau di seka di serahkan yayasannya maka yayasan itu akan hancur, karean di desa lebih kuat pertanggung jawabannya makanya di sekarang yayasan itu di kelola oleh Desa Batuan yang bernama Yayasan Gambuh Desa Pakraman Batuan.

Para artis Gambuh dalam panggung

Pada awalnya, teater total Gambuh adalah kesenian istana kaum bangsawan Bali tempo dulu. Pada masa kejayaan Dalem Waturenggong di abad ke 16, seni pertunjukan Gambuh adalah tontonan kesayangan seisi kraton dan masyarakat umum. Begitu tingginya gengsi kesenian ini hingga hampir setiap puri di Bali saat itu memiliki tempat khusus untuk menggelarnya yang disebut dengan bale pagambuhan.

Para seniman Gambuh yang menonjol direkrut menjadi seniman istana dan diberi status sosial yang terhormat. Akan tetapi seiring dengan terkikisnya era feodalisme ikut pula menggerus keberadaan seni pentas yang diduga sudah muncul di Bali pada abad ke- 10 ini,yang lakonnya bersumber pada cerita Panji.Gambuh berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa,

seni sastra, dan lainnya. Kini hampir tak ada bekas pusat kerajaan yang masih memiliki bale pagambuhan. Para seniman yang terwadahi dalam sebuah sekaa yang khusus menggeluti teater Gambuh pun belakangan makin susut. Seni pertunjukan ini bahkan sudah masuk dalam katagori kesenian langka. Pementasannya hanya mungkin bisa dipergoki dalam upacara berskala besar,Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.

Salah satu Lakon dalam gambuh

Memasuki zaman kemerdekaan seni pertunjukan Gambuh memang beralih fungsi dari kesenian istana menjadi seni pentas ritual keagamaan. Penampilan Gambuh selain dimaknai sebagai presentasi estetik namun juga menjadi kelengkapan upacara keagamaan penting tersebut. Dalam suasana yang komunal dan atmosfir yang religius, generasi tua dan muda para partisipan upacara keagamaan itu menyaksikan teater tradisi yang amat jarang dipentaskan itu.( http://hindhuartalles.blogspot.com/2012/01/tari-gambuh.html)