Profil Desa

29 Juli 2013
Administrator
Dibaca 53 Kali

Bali adalah daerah tujuan wisata internasional, keindahan alam dan adat budaya yang masih terjaga dengan baik membuat wisatawan tak pernah bosan untuk berlibur ke Bali. Batuan adalah satu diantara banyak nya desa di Gianyar yang masih melestarikan adat dan budayanya dari dulu hingga saat ini.

Batuan terdiri dari empat desa adat dan tujuh belas banjar yang memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Seperti halnya di desa adat batuan ada sebuah tradisi yang dilaksanakan dari sasih kelima smpai kesanga yang sering disebut dengan Rejang Sutri. Tradisi ini sangat disankralkan oleh warga batuan. Masyarakat percaya pada sasih ini Ida Ratu Gede Mecaling dipercaya mengusik ketenangan dan keselamatan masyarakat dan menimbulkan pancabaya. Pancabaya yang dimaksud disini adalah 5 keadaan yang membahayakan bagi masyarakat. Diantaranya Geni baya(kebakaran), Bayu baya (angin ribut), Gangga baya (banjir) dan seterusnya.  Pesutrian ini diadakan di penataran Pura Puseh Desa Batuan atau di wantilan Pura Puseh Desa Batuan. Biasanya setiap harinya tiap banjar diharapkan ada pengayah pesutrian yang nangkil dan menari tari pesutrian ini. Selain untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur, Tarian Rejang sutri juga mampu menarik wisatawan untuk datang dan menyaksikan secara langsung tarian ini ke Desa Batuan. Selain terkenal dengan tarian Rejang sutri dan keunikan Pura Puseh Desa Batuannya, Batuan juga terkenal akan seni Lukisnya, orang-orang menyebutnya lukisan gaya Batuan. Lukisan gaya Batuan sudah terkenal sampai ke Dunia Internasional dan telah menjadi ikon Desa Batuan di mata Dunia.

Di Desa adat Lantangidung juga terdapat warisan budaya yang masih di lestarikan sampai sekarang yaitu Tari Kecak dan Tari Shang Hyang Dedari. Tari Kecak sering dipertunjukan di pelataran Pura Desa untuk menjadi hiburan masyarakat dan wisatawan yang berkunjung kesana. Disamping untuk melestarikan budaya warisan leluhur, Tari Kecak di Desa Adat Lantangidung juga dipertunjukan secara komersil untuk menambah pemasukan Desa. Tarian Shang Hyang Dedari ditarikan oleh gadis-gadis cilik dalam hal ini karena gadis-gadis yang belum akil balik atau dewasa masih dianggap suci secara sekala.

Desa adat Negara Batuan mulai melestarikan kembali tarian Rejang Renteng yang dulu menurut cerita masyarakat setempat berasal dari Banjar Penida bagian dari Desa Adat Negara. Pengurus Adat mewajibkan setiap ada odalan atau upacara di Pura Kahyangan tiga harus dipertunjukan tarian ini. Berbeda dari Tarian Rejang Renteng di daerah lain, Disini yang menarikan tarian ini adalah anggota PKK dan memiliki pola kostum putih dan kuning. Sama hal nya dengan Desa Adat Batuan, disini Tari Rejang Sutri juga mulai dilestarikan bedanya disini yang menarikan tarian Rejang Sutri adalah pemudi-pemudi setempat.

Adat dan Budaya yang masih berkembang di Desa Adat Gerih adalah Topeng Pajegan. Topeng Pajegan sendiri berrmakna satu penari memerankan beberapa karakter Topeng. Dalam setiap pementasan Topeng Pajegan, meskipun sang penari menampilkan beragam karakter tokoh namun wajib diakhiri dengan penampilan Topeng Sidekarya. Tarian ini sangat sakral dan dipertunjukan saat ada upacara keagamaan saja. Topeng Pajegan disebut juga dengan Topeng Wali.

Demikianlah Budaya yang menonjol di setiap desa adat yang ada di Desa Batuan, di samping Budaya yang sudah lumrah di Bali yang terdapat juga di Desa Batuan. Terlepas dari itu Banjar yang merupakan bagian dari Desa adat juga memiliki keunikan Budaya tersendiri. Hal ini yang membuat Desa Batuan menjadi Desa yang kaya akan adat istiadat dan budaya.

Di Banjar Dinas Dentiyis terdapat budaya yang sudah jarang di temui di Bali yaitu Tari Topeng Wayang Wong. Tari Wayang Wong biasanya mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata. Tari Wayang Wong yang mengambil cerita Mahabarata disebut Tari Wayang Wong Parwa.

Banjar Dinas Pekandelan Bisa dikatakan tempatnya maestro-maestro penari Batuan berkumpul. Banyak penari terkenal lahir di daerah ini seperti Ni Ketut Cenik maestro Tari Joged Pingitan, I Made Djimat maestro Tari Jauk Manis, I Made Kakul maestro Topeng Pajegan. Seniman tersebut bukan hanya terkenal di wilayah Bali tapi sampai ke Internasional. Budaya yang masih berkembang disini adalah Tari Gambuh dan Genggong dan masih di pertahankan sampai sekarang. Bahkan Tari Gambuh Desa Batuan Sering di undang dan pentas di dunia internasional. Disini juga berkembang beberapa Sanggar Tari yang masih ada sampai sekarang, yaitu Panti Pusaka Budaya Batuan, Kakul Mas, Satria Lelana, dan lain lain.

Lain halnya dengan Banjar Dinas Puaya, disini termasuk wilayah sentra pembuatan wayang kulit yang sudah terkenal. Daerah- daerah laen memesan wayang kulit kesini. Oleh sebab itu seni budaya Pewayangan tumbuh dan masih berkembang sampai sekarang. Selain Wayang Kulit disini juga membuat pakaian penari dan Barong. Di Puaya hampir seperempat penduduknya bisa menari.

Di Banjar Dinas Tegeha ada sebuah peninggalan budaya atau tradisi Tari Barong Kedingkling, yaitu sebuah Tarian dimana beberapa penari memakai topeng dan kostum berkeliling ke wilayah banjar. Saat berkeliling penari akan memasuki setiap perumahan warga dan menari di halaman Merajan (tempat suci yang ada di setiap rumah warga). Tradisi ini disebut dengan Ngelawang. Makna dari Tradisi Ngelawang ini adalah sebagai penolak bala.

Demikianlah sebagian kecil dari warisan budaya yang ada di Desa Batuan, masih banyak warisan budaya yang lainya yang belum kami jabarkan dikarenakan memiliki karakteristik yang sama seperti daerah laen. Di Desa batuan hampir tidak sulit menjumpai penari, sekaa gong, pelukis, dan sanggar tari hal ini di karenakan warisan budaya yang telah mendarah daging yang diturunkan secara turun temurun oleh leluhur masyarakat Batuan itu sendiri. Berikut adalah beberapa Sanggar Tari yang ada di Desa Batuan:

  1. Sanggar Tari Satria Lelana
  2. Sanggar Tari Kakul Mas
  3. Sanggar Tari Panti Pusaka Budaya
  4. Sanggar Tari Dana Swara
  5. Sanggar Tari Widya Kumara
  6. Sanggar Tari Sampik, dll.

Peran Sanggar-sanggar yang ada di Desa Batuan sangat penting dalam pelestarian budaya di Desa Batuan karena Sanggar tersebut melatih generasi muda untuk senang akan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Secara tidak langsung Sanggar yang ada di Desa Batuan telah turut serta dalam menjaga budaya dan tradisi yang ada di Desa Batuan itu sendiri.

Bagikan artikel ini:
Kirim Komentar

Komentar baru terbit setelah disetujui Admin

CAPTCHA Image